Training Kalibrasi – Manual Mutu | Banyak laboratorium pengujian laboratorium yang terlihat rapi saat menunjukkan tumpukan dokumen, tetapi masih memiliki kekurangan di satu titik yang paling sensitif: jaminan keabsahan hasil.
Di sinilah biasanya auditor paling cepat menangkap ketidaksesuaian, bukan karena lab tidak punya prosedur, melainkan karena sistemnya belum menuntun personel untuk menghasilkan data yang konsisten, terbukti, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Masalahnya, jaminan keabsahan hasil sering ditulis seperti buku pelajaran. Panjang, penuh definisi, tetapi tidak memberi arah operasional. Padahal, manual mutu laboratorium seharusnya menjadi pedoman yang menjembatani standar dan praktik. Artikel ini membahas cara memasukkan jaminan keabsahan hasil ke dalam Manual Mutu tanpa membuatnya menjadi teori semata, tetap ringkas, dan mudah diaudit.
Memahami Peran Manual Mutu dalam Lab Pengujian
Sebelum masuk ke teknis, kita perlu menyamakan persepsi: manual mutu adalah dokumen payung yang menjelaskan bagaimana sistem mutu laboratorium dibangun dan dijalankan. Dalam konteks ISO 17025, manual mutu laboratorium tidak harus tebal, tetapi harus jelas menunjukkan hubungan antara kebijakan, proses inti, pengendalian mutu, dan bukti objektif yang bisa ditelusuri.
Di lab pengujian, manual mutu sebaiknya tidak menjadi hanya sekedar kumpulan klausul, melainkan peta besar: bagaimana permintaan pelanggan ditinjau, bagaimana prosedur pengujian dipilih, bagaimana personel memastikan metodologi pengujian dijalankan sesuai ketentuan, dan bagaimana kualitas data dijaga dari awal sampai laporan final.
Manual Mutu vs Prosedur Teknis: Jangan Dicampur
Kesalahan umum adalah menjejalkan detail prosedur pengujian ke dalam manual mutu. Akibatnya dokumen menjadi berat, sulit direvisi, dan tidak efektif. Manual mutu cukup menjelaskan pendekatan, aturan main, dan rujukan ke prosedur. Detail langkah pengujian tetap berada di instruksi kerja atau SOP teknis.
Cara yang lebih rapi adalah: manual mutu menetapkan “kerangka”, lalu prosedur teknis menjelaskan “cara melakukan”. Dengan begitu, standar kualitas tercermin dalam sistem, bukan sekadar tertulis.
Mengapa Jaminan Keabsahan Hasil Sering Jadi Teori
Jaminan keabsahan hasil sering gagal diterapkan karena tiga sebab sederhana.
Pertama, rencana pengendalian mutu tidak ditentukan sejak awal. Banyak lab menjalankan QC hanya jika ada waktu saja. Kedua, kriteria penerimaan tidak didefinisikan jelas, sehingga evaluasi hasil menjadi subjektif. Ketiga, rekaman tidak dipetakan sebagai catatan pengujian yang wajib, sehingga bukti objektif tercecer.
Kalau ketiga hal ini diperbaiki, jaminan keabsahan hasil otomatis menjadi bagian dari pekerjaan, bukan pekerjaan tambahan.
Cara Menulis Bagian Jaminan Keabsahan Hasil di Manual Mutu
Bagian ini sebaiknya ditulis singkat namun tegas. Poinnya bukan definisi, melainkan aturan operasional. Format yang efektif biasanya mencakup: tujuan, ruang lingkup, metode pengendalian, kriteria, rekaman, dan tanggung jawab.
1) Tetapkan Tujuan dan Cakupan yang Operasional
Tuliskan tujuan jaminan keabsahan hasil dalam satu paragraf yang jelas, misalnya: memastikan kualitas data pengujian konsisten, akurat sesuai metodologi pengujian, dan terdeteksi bila ada penyimpangan sebelum laporan diterbitkan. Lalu jelaskan cakupan: metode mana yang wajib QC rutin, jenis pengujian apa yang berisiko tinggi, dan kapan frekuensi QC ditingkatkan.
Kalimatnya tidak perlu banyak, yang penting bisa dipakai sebagai pedoman mutu untuk mengambil keputusan.
Baca juga: Cara Review Sasaran Mutu Saat Target Melenceng: Langkah Praktis yang Auditor Suka
2) Definisikan Paket Pengendalian Mutu yang Dipakai Lab
Agar tidak teoritis, tuliskan daftar mekanisme pengendalian mutu yang memang akan dijalankan. Pilih yang relevan dengan karakter pengujian laboratorium kamu. Contoh mekanisme yang umumnya kuat dan mudah diaudit:
- Blanko, kontrol positif/negatif (jika relevan)
- Duplo atau replikasi
- Penggunaan bahan acuan atau kontrol internal
- Pengecekan antar personel (peer check) untuk perhitungan kritis
- Pemantauan tren hasil (bila metode menghasilkan data berkala)
- Uji banding atau program pembandingan (bila tersedia dan relevan)
Yang penting, manual mutu menjelaskan lab memakai paket A, B, C beserta logikanya, bukan hanya menyebut “QC dilakukan”.
3) Masukkan Kriteria Penerimaan dan Aturan Tindak Lanjut
Di sinilah banyak manual mutu menjadi lemah. Sebutkan bahwa setiap mekanisme QC harus punya kriteria penerimaan yang terdokumentasi. Tidak perlu memasukkan angka spesifik di manual mutu, cukup jelaskan sumbernya ada di prosedur pengendalian mutu atau lampiran metode.
Lalu tuliskan aturan tindak lanjut yang jelas. Misalnya:
- Jika QC tidak memenuhi kriteria, hasil terkait ditahan, dilakukan investigasi, dan pengujian diulang bila diperlukan.
- Jika ada indikasi drift atau ketidakstabilan, lab melakukan evaluasi hasil dan menetapkan tindakan perbaikan yang sesuai.
Dengan aturan seperti ini, jaminan keabsahan hasil tidak lagi menjadi teori karena ada konsekuensi proses yang nyata.
4) Petakan Rekaman sebagai Catatan Pengujian Wajib
Auditor biasanya tidak hanya bertanya ada QC atau tidak, tetapi mana buktinya, dan apakah konsisten. Karena itu manual mutu perlu menyebut daftar rekaman minimal sebagai catatan pengujian, misalnya:
- Lembar kerja/worksheet pengujian
- Log QC atau lembar pengendalian mutu
- Catatan pengujian terkait kondisi peralatan dan pemeriksaan kesesuaian sebelum pakai
- Rekaman perhitungan dan verifikasi
- Bukti review teknis sebelum rilis laporan
Kalimat yang efektif: “Semua aktivitas pengendalian mutu harus menghasilkan rekaman yang terkendali sebagai catatan pengujian dan ditelusuri ke sampel, metode, personel, serta tanggal pelaksanaan.”
Menguatkan Jaminan Keabsahan Hasil lewat Personel dan Metode
Jaminan keabsahan hasil tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus menempel ke kompetensi personel dan konsistensi metode.
Pelatihan Operator yang Terencana, Bukan Sekadar Absensi
Banyak lab sudah melakukan pelatihan operator, tetapi bukti kompetensinya tidak kuat. Manual mutu sebaiknya menegaskan bahwa pelatihan bukan hanya kegiatan, melainkan proses menuju otorisasi. Artinya ada evaluasi setelah pelatihan: observasi praktik, uji banding internal, atau review hasil kerja.
Pernyataan yang tegas: personel hanya boleh melakukan pengujian tertentu setelah dinyatakan kompeten dan diotorisasi. Ini langsung relevan untuk akreditasi lab karena menunjukkan kendali mutu pada sumber daya manusia.
Koneksikan ke Prosedur Pengujian dan Metodologi Pengujian
Manual mutu perlu menjelaskan bahwa setiap prosedur pengujian harus terkendali, tervalidasi/terverifikasi sesuai kebutuhan, dan diterapkan konsisten. Untuk menghindari teori, sebutkan alur ringkas:
- pemilihan metode
- pengendalian dokumen metode
- pelaksanaan sesuai instruksi
- review teknis dan evaluasi hasil
Dengan alur ini, ISO 17025 terasa hidup karena terlihat bagaimana sistem bekerja.
Checklist Praktis: Apakah Bagian Ini Sudah “Tidak Teoritis”?
Sebelum final, uji bagian jaminan keabsahan hasil di manual mutu dengan pertanyaan berikut:
- Apakah ada daftar mekanisme QC yang benar-benar dilakukan?
- Apakah ada aturan tindak lanjut saat QC gagal?
- Apakah rekaman QC disebut jelas sebagai catatan pengujian?
- Apakah ada kaitan dengan kompetensi personel dan pelatihan operator?
- Apakah evaluasi hasil diposisikan sebagai aktivitas wajib sebelum laporan dirilis?
Kalau jawaban ya untuk mayoritas, manual mutu laboratorium kamu sudah berada di jalur yang tepat: ringkas, operasional, dan mudah dibuktikan.
Rekomendasi Pelatihan:
- Implementasi ISO/IEC 17025:2017
- Dokumentasi ISO/IEC 17025:2017
- Quality Control Laboratorium
- Teknik Analisis Control Chart
- Teknik Evaluasi Hasil QC Lab dan Kompetensi Analis
- Verifikasi dan Validasi Metode Uji Kimia
Pada akhirnya, manual mutu adalah alat manajemen, bukan pajangan dokumen. Di laboratorium pengujian laboratorium, jaminan keabsahan hasil menjadi inti kepercayaan pelanggan dan fondasi akreditasi lab.
Cara terbaik memasukkannya ke dalam manual mutu bukan dengan memperbanyak definisi, tetapi dengan menuliskan aturan main yang operasional: paket pengendalian mutu yang dipakai, kriteria penerimaan, tindak lanjut saat gagal, dan rekaman yang wajib ada.
Ketika bagian ini ditulis dengan cara yang praktis, ISO 17025 tidak lagi terasa sebagai beban dokumen. Ia berubah menjadi sistem yang membantu lab menjaga standar kualitas secara konsisten dan menjaga kualitas data agar tetap dapat dipertanggungjawabkan.
Kalau manual mutu laboratorium kamu masih membuat jaminan keabsahan hasil berhenti di dokumen saja. QC tidak konsisten, catatan pengujian tercecer, dan evaluasi hasil belum jadi kebiasaan, gunakan Jasa Konsultan ISO dari SPIN Sinergi untuk pendampingan implementasi ISO 17025 yang praktis sampai sistem berjalan, bukti objektifnya kuat, siap asesmen, dan lulus akreditasi.
Hubungi Kami untuk bimbingan yang rapi, terarah, dan sesuai kebutuhan laboratorium kamu.
