Training Kalibrasi – Audit internal sering dianggap pekerjaan administrasi yang menambah daftar tugas. Padahal, audit internal laboratorium adalah alat paling efektif untuk memastikan kepatuhan standar berjalan nyata di laboratorium, bukan hanya rapi di dokumen.
Audit yang baik membantu laboratorium menemukan celah sebelum auditor eksternal menemukannya, lalu menutup temuan sampai tuntas dengan tindak lanjut audit yang terukur.
Artikel ini membahas cara membangun program audit laboratorium, menyusun checklist audit laboratorium yang mudah dipakai, membuat laporan audit internal yang jelas, dan melakukan penutupan temuan audit sampai benar-benar selesai.
Audit Laboratorium Itu Untuk Apa
Audit laboratorium adalah evaluasi terencana untuk menilai apakah proses, dokumen, dan praktik kerja sudah sesuai prosedur audit internal laboratorium dan persyaratan standar yang berlaku. Tujuannya bukan mencari kesalahan orang, melainkan menilai sistem dan efektivitas proses.
Audit internal yang baik akan menjawab:
- Apakah pengendalian dokumen berjalan sehingga versi prosedur yang dipakai benar
- Apakah catatan audit dan rekaman kerja mendukung ketertelusuran
- Apakah evaluasi proses laboratorium menghasilkan perbaikan nyata
- Apakah penilaian risiko laboratorium sudah diterapkan pada titik kritis
Program Audit Laboratorium yang Efektif
Program audit mutu laboratorium adalah rencana tahunan atau periodik yang memastikan semua area penting diaudit secara teratur, dengan pendekatan berbasis risiko.
Menentukan ruang lingkup dan tujuan program
Tentukan area yang masuk audit, misalnya:
- penerimaan sampel dan identifikasi
- pelaksanaan metode uji atau kalibrasi
- pengendalian dokumen dan rekaman
- pengendalian mutu internal dan evaluasi data
- penanganan pekerjaan tidak sesuai dan perbaikan non-konformitas
- pelaporan hasil dan review teknis
Tujuan program harus jelas, misalnya memverifikasi kepatuhan standar, mengevaluasi efektivitas proses, atau memastikan tindak lanjut audit berjalan.
Menetapkan frekuensi berbasis penilaian risiko laboratorium
Tidak semua proses harus diaudit dengan frekuensi yang sama. Gunakan penilaian risiko laboratorium untuk menentukan prioritas:
- proses yang berdampak langsung ke validitas hasil dan pelanggan diaudit lebih sering
- proses yang sering berubah atau banyak personel baru juga diprioritaskan
- area yang pernah punya temuan berulang harus diaudit lebih ketat
Menetapkan auditor dan independensi
Auditor internal harus kompeten dan memiliki independensi relatif. Idealnya auditor tidak mengaudit pekerjaannya sendiri. Jika struktur lab kecil, mitigasi dapat dilakukan dengan audit silang antar area atau melibatkan auditor dari unit lain.
Menyiapkan jadwal dan sumber daya
Program audit bukan hanya jadwal tanggal. Pastikan ada sumber daya: waktu, akses dokumen, akses area, serta dukungan komitmen manajemen. Tanpa komitmen manajemen, audit akan jadi formalitas dan tindak lanjutnya lemah.
Prosedur Audit Laboratorium yang Praktis
Agar audit konsisten, buat prosedur audit laboratorium yang ringkas namun lengkap. Secara umum alurnya:
Persiapan audit
- tetapkan tujuan, ruang lingkup, kriteria, dan tim auditor
- kumpulkan dokumen acuan, seperti prosedur, form, dan catatan terkait
- siapkan checklist audit laboratorium
- atur agenda dan komunikasi ke auditee
Baca juga: Matriks Kompetensi dan Pelatihan Staf Laboratorium: Dari Pelatihan ke Otorisasi
Pelaksanaan audit
- opening meeting singkat untuk menyamakan tujuan dan aturan audit
- wawancara personel, observasi kerja, dan peninjauan dokumen
- kumpulkan bukti objektif: rekaman, catatan, foto internal jika diperlukan, atau sampling catatan
- catat temuan dengan jelas: bukti, lokasi, dan persyaratan yang tidak terpenuhi
Pelaporan hasil
- buat ringkasan temuan, klasifikasi, dan area terdampak
- sampaikan hasil melalui closing meeting
- susun laporan audit internal yang mudah dipahami dan dapat ditindaklanjuti
Checklist Audit Laboratorium yang Tidak Membuat Pusing
Checklist audit laboratorium adalah alat bantu agar auditor tidak melewatkan area penting. Checklist yang baik tidak terlalu panjang, fokus pada titik kritis, dan memandu auditor mencari bukti objektif.
Struktur checklist yang disarankan
Buat checklist per proses, bukan per klausul panjang. Contohnya:
Pengendalian dokumen
- Apakah prosedur terbaru tersedia di area kerja
- Apakah ada bukti distribusi dan penarikan dokumen lama
- Apakah form yang dipakai sesuai versi dan terisi lengkap
Pelaksanaan metode dan catatan audit
- Apakah personel bekerja sesuai prosedur yang berlaku
- Apakah catatan pengujian atau kalibrasi lengkap dan dapat ditelusuri
- Apakah perubahan atau koreksi pencatatan dikendalikan
Pengendalian mutu dan evaluasi proses laboratorium
- Apakah kontrol mutu dilakukan sesuai rencana
- Apakah kriteria penerimaan ditetapkan dan digunakan konsisten
- Apakah ada tindakan saat hasil kontrol mutu tidak memenuhi
Penanganan non-konformitas dan tindak lanjut audit
- Apakah pekerjaan tidak sesuai dicatat dan ditahan sesuai prosedur
- Apakah dilakukan perbaikan non-konformitas dengan analisis akar penyebab
- Apakah ada bukti verifikasi efektivitas perbaikan
Tips agar checklist lebih kuat
- sertakan kolom bukti objektif, bukan hanya ya atau tidak
- sertakan kolom risiko jika temuan dibiarkan
- gunakan bahasa operasional agar mudah dipahami auditor dan auditee
Laporan Audit Internal yang Dinilai Bagus oleh Auditor
Laporan audit internal sebaiknya ringkas, jelas, dan fokus pada tindak lanjut. Isi minimal yang ideal:
- identitas audit: tanggal, area, auditor, auditee
- ruang lingkup dan kriteria
- ringkasan hasil: kekuatan dan peluang perbaikan
- daftar temuan dengan bukti dan referensi persyaratan
- rekomendasi tindak lanjut audit dan tenggat waktu
Catatan audit harus konsisten. Jika suatu temuan dicatat, pastikan bukti dan lokasi jelas, sehingga mudah diverifikasi saat penutupan.
Penutupan Temuan Audit dan Cara Menutupnya Sampai Tuntas
Penutupan temuan audit bukan berarti form ditandatangani. Penutupan temuan audit dinilai tuntas jika:
- ada tindakan koreksi untuk mengendalikan dampak
- ada tindakan korektif berbasis analisis akar penyebab
- ada bukti implementasi perbaikan
- ada bukti verifikasi efektivitas
Langkah praktis penutupan temuan
- Kendalikan dampak segera
Tahan hasil, hentikan proses terdampak, atau lakukan pemeriksaan ulang jika diperlukan. - Lakukan analisis akar penyebab
Gunakan metode yang sesuai. Pastikan akar penyebab menyasar sistem, bukan menyalahkan orang. - Susun rencana perbaikan
Buat rencana yang terukur, dengan penanggung jawab, tenggat waktu, dan bukti yang harus dihasilkan. - Implementasi perbaikan
Pastikan perubahan benar-benar terjadi. Contohnya revisi prosedur, penguatan pengendalian dokumen, pelatihan, atau perubahan alur verifikasi. - Verifikasi efektivitas
Buktikan bahwa perbaikan bekerja melalui audit ulang terbatas, review data, sampling rekaman, atau pemantauan tren.
Mengaitkan penutupan temuan dengan komitmen manajemen
Beberapa temuan tidak bisa selesai jika tidak ada keputusan manajemen, misalnya kebutuhan alat, tambahan personel, perubahan sistem, atau perbaikan fasilitas. Karena itu, komitmen manajemen perlu terlihat dalam bentuk keputusan, dukungan sumber daya, dan review hasil tindak lanjut.
Pengembangan Prosedur Setelah Audit
Audit yang baik menghasilkan pelajaran untuk pengembangan prosedur. Jangan hanya memperbaiki area yang diaudit, tetapi cek dampaknya ke proses lain. Contohnya:
- jika ada kelemahan pengendalian dokumen, cek semua area yang memakai dokumen serupa
- jika ada kelemahan pelatihan, evaluasi matriks kompetensi dan otorisasi
- jika ada kelemahan kontrol mutu, tinjau program QC/QA dan kriteria penerimaan
Pengembangan prosedur yang berbasis audit membuat sistem lebih stabil dan mengurangi temuan berulang.
Rekomendasi Pelatihan:
- Internal Audit ISO/IEC 17025:2017
- Teknik Investigasi dan Closing Temuan Asesmen Lab
- Dokumentasi ISO/IEC 17025:2017
- Document Control
- Quality Assurance Laboratorium
Audit internal laboratorium akan efektif jika program audit laboratorium disusun berbasis risiko, checklist audit laboratorium dibuat praktis, dan tindak lanjut audit dilakukan sampai tuntas. Kunci penutupan temuan audit ada pada bukti: tindakan koreksi, perbaikan non-konformitas berbasis akar penyebab, serta verifikasi efektivitas.
Dengan catatan audit dan laporan audit internal yang rapi, evaluasi proses laboratorium menjadi lebih tajam, dan komitmen manajemen terlihat dari perbaikan yang benar-benar berjalan.
Kalau audit internal di lab kamu masih belum rapi karena program audit belum jelas, checklist belum tajam, atau penutupan temuan sering tertahan di tindak lanjut, ikuti Pelatihan Internal Audit ISO 17025 dari SPIN Sinergi agar tim kamu mampu menyusun internal audit berbasis risiko dan menutup temuan sampai tuntas dengan bukti yang kuat.
Hubungi Kami untuk rekomendasi kelas yang paling sesuai kebutuhan lab kamu.
