Pelatihan ISO – Ingin memahami cara menggunakan multimeter analog dari nol tanpa pusing? Di panduan ini, kamu akan belajar langkah demi langkah—mulai dari memilih range yang tepat, melakukan Zero Adjust (Zero Ohm/Ohm Adj), membaca skala jarum tanpa salah (anti-paralaks), hingga praktik uji komponen seperti resistor, dioda, dan kabel putus.
Bahasa sederhananya: ini adalah “pegangan tangan” untuk pemula yang ingin mahir menggunakan multitester analog/AVO meter.
Kenalan Singkat dengan Multimeter Analog (Avo Meter)
Bagian Utama dan Fungsinya
- Selector/Range knob: Memilih mode ukur (V AC/DC, A DC, Ω) dan skala (mis. x1, x10, x1K di mode ohm).
- Terminal/jack: Umumnya COM (hitam/negatif) dan VΩmA (merah/positif). Beberapa tipe punya jack arus khusus (10A).
- Jarum & skala: Skala berganda (V, A, Ω) pada satu panel. Skala ohm biasanya terbalik (0 Ω di kanan).
- Cermin skala: Garis cermin kecil di balik skala untuk mencegah paralaks saat membaca jarum.
- Zero Adjust (Ohm Adj): Potensiometer untuk “menolkan” skala Ω saat probe di-short.
- Mechanical zero: Sekrup kecil untuk menyetel jarum ke angka 0 di kiri saat tidak ada pengukuran.
- Baterai internal: Diperlukan untuk mode Ω (resistansi) dan uji beberapa komponen.
Istilah lain yang sering dipakai: cara menggunakan multitester analog, cara penggunaan multimeter analog, cara menggunakan tester analog, dan cara menggunakan avometer analog—semuanya merujuk ke alat yang sama.
Keamanan Dasar (Wajib Baca)
- Mulai dari range tertinggi, lalu turunkan bertahap untuk mencegah over-range.
- Jangan ukur arus dengan posisi V/Ω (atau sebaliknya). Salah mode bisa merusak meter.
- Untuk arus, meter harus diseri dengan beban. Untuk tegangan, meter paralel dengan sumber.
- Hindari menyentuh bagian konduktif probe saat mengukur tegangan AC jala-jala (220–230 V).
- Matikan peralatan sebelum berpindah mode ukur.
Setting Awal: Range, Polaritas, dan Zero Adjust
Memilih Range yang Tepat
- Putar selector ke mode yang benar: DCV, ACV, DCA, atau Ω.
- Pilih range tertinggi dulu (mis. 250 V untuk tegangan), kemudian turunkan sampai jarum berada di area pembacaan yang nyaman (sekitar tengah skala).
Zero Adjust (Mode Ω)
- Set ke mode Ω dan pilih range (x1, x10, x1K, dll.).
- Short kedua probe (sentuhkan merah–hitam).
- Putar Ohm Adj hingga jarum tepat di “0 Ω” (biasanya sisi kanan skala).
- Lepas short. Jarum kembali ke sisi kiri (∞).
Jika tidak bisa nol, baterai internal mungkin lemah—ganti terlebih dahulu.
Hindari Paralaks Saat Membaca
- Arahkan mata tegak lurus ke skala.
- Pastikan jarum menutup bayangan jarum pada garis cermin—itu posisi baca yang benar.
Cara Mengukur Tegangan (V)
DC Voltage (DCV)
- Mode DCV, pilih range tertinggi (mis. 250 V).
- Hubungkan paralel dengan titik ukur: probe merah ke positif, hitam ke negatif.
- Jika jarum bergerak terlalu kecil, turunkan range sampai pembacaan nyaman.
- Baca nilai pada skala DCV sesuai range yang dipilih.
Tips: Pada multimeter analog, polaritas terbalik dapat membuat jarum cenderung bergerak ke arah tak wajar—balikkan probe bila perlu.
Baca juga: Cara Menggunakan Multitester Digital untuk Mengukur Tegangan, Arus, dan Resistansi
AC Voltage (ACV)
- Mode ACV, pilih range yang aman (mis. 250 V untuk jala-jala).
- Hubungkan paralel ke titik ukur.
- Baca pada skala ACV.
Catatan: Analog meter memiliki batas bandwidth—untuk AC berfrekuensi sangat tinggi, pembacaan bisa tidak akurat.
Cara Mengukur Arus (A DC)
- Matikan rangkaian, lalu serikan meter dengan beban (buka jalur dan sambungkan meter di antaranya).
- Mode DCA, pilih range tertinggi.
- Nyalakan rangkaian dan amati jarum. Turunkan range untuk akurasi.
- Baca pada skala arus.
Penting: Beberapa tester analog tidak memiliki proteksi sekering untuk arus tinggi. Jika ada jack 10A, gunakan hanya jika diperlukan, dalam waktu singkat.
Cara Mengukur Resistansi (Ω)
- Mode Ω, pilih range (x1, x10, x1K, x10K).
- Zero Adjust terlebih dahulu (probe di-short → set ke 0 Ω).
- Pastikan komponen terlepas dari rangkaian (hindari pengaruh paralel).
- Sentuhkan probe ke kedua ujung komponen, baca skala Ω (ingat: skala terbalik, 0 di kanan).
- Kalikan hasil pembacaan dengan faktor range (x1, x10, dst.).
Contoh: Jarum menunjuk 20 pada skala, range x10 → nilai 200 Ω.
Uji Komponen Cepat (Troubleshooting)
Uji Kontinuitas (Kabel Putus)
- Gunakan Ω x1 atau x10, Zero Adjust lebih dulu.
- Sentuhkan probe pada dua ujung kabel. Jarum menyimpang ke kanan → tersambung. Jarum tetap kiri → kemungkinan putus.
- Tidak ada bunyi beep—visual jarum adalah indikatornya.
Uji Dioda (Forward/Reverse)
- Mode Ω x10 atau x1K.
- Forward-bias: merah ke anoda, hitam ke katoda → jarum bergerak (tanda ada konduksi).
- Reverse-bias: tukar posisi probe → jarum nyaris tidak bergerak.
- Jika dua arah sama-sama bergerak atau sama-sama tidak bergerak: dioda rusak (bocor/putus).
Cek Transistor (Tes Sederhana)
- Perlakukan seperti dua dioda yang bertemu di base.
- Untuk NPN: base–emitter dan base–collector konduksi saat forward (probe merah ke base), sebaliknya tidak saat dibalik.
- Untuk PNP: kebalikan polaritasnya.
Ini hanya screening cepat; bukan pengukuran parameter (β/hFE). Untuk presisi, gunakan alat khusus.
“Kick Test” Kapasitor (Deteksi Kasar)
- Mode Ω x1K/x10K.
- Sentuhkan probe: jarum “menendang” ke kanan lalu kembali → kapasitor mengisi (indikatif masih hidup).
- Jarum diam → bisa jadi putus/ESR tinggi; jarum menetap konduksi → bisa bocor.
Ingat: ini indikasi kualitatif, bukan nilai kapasitansi.
Tips Akurasi & “Kalibrasi Ringan”
Mechanical Zero & Ohm Zero
- Mechanical zero: setel jarum ke angka 0 kiri saat alat off.
- Ohm zero: lakukan Zero Adjust setiap kali mengganti range Ω atau sebelum serangkaian pengukuran resistansi.
Sumber Rujukan Cepat
- Baterai 1,5 V baru → referensi sederhana untuk DCV kecil.
- Adaptor 9 V/12 V (non-switching lebih stabil) → pengecekan cepat skala DCV menengah.
Hati-hati: jangan jadikan PLN 220 V sebagai “rujukan main-main”—gunakannya hanya untuk pengukuran serius dengan prosedur aman.
Minimalkan Galat
- Hindari paralaks, gunakan range tengah skala, dan jaga polaritas.
- Ganti baterai internal jika Zero Adjust sulit dicapai.
- Bersihkan probe dan jepitannya agar kontak baik.
Analog vs Digital: Kapan Memilih yang Mana?
Banyak pemula menanyakan cara menggunakan multimeter analog dan digital serta kapan harus memilihnya.
- Analog unggul saat memantau perubahan dinamis (jarum “hidup”), cocok untuk tuning, melihat fluktuasi cepat, dan uji trend.
- Digital unggul pada angka presisi, auto-range, dan fitur beep kontinuitas.
- Saran praktis: pahami cara menggunakan avometer analog untuk kepekaan “rasa ukur” lapangan, lalu lengkapi dengan DMM untuk presisi angka.
Perawatan & Penyimpanan
- Simpan di tempat kering, jauh dari magnet kuat dan getaran.
- Matikan dan kembalikan selector ke range tinggi sebelum disimpan.
- Ganti baterai bila bocor atau lemah; bersihkan kontak dan terminal secara berkala.
- Simpan probe dengan rapi agar ujungnya tidak tumpul/oksidasi.
Rekomendasi Pelatihan: Training Kalibrasi Multimeter dan Avometer
Belajar cara menggunakan tester analog itu soal kebiasaan: pilih range yang aman, lakukan Zero Adjust sebelum ukur resistansi, hindari paralaks saat membaca jarum, dan biasakan prosedur seri/paralel yang benar untuk arus/tegangan.
Dengan latihan singkat—uji kabel, resistor, dan dioda—kamu akan cepat merasa “akrab” dengan karakter multimeter analog. Setelah itu, barulah bandingkan dan padukan dengan DMM untuk pekerjaan yang menuntut presisi.
Selamat berlatih dan tetap utamakan keselamatan!
Tingkatkan kualitas troubleshooting. Kuasai kalibrasi multimeter untuk validasi hasil uji, pemetaan error, dan budget ketidakpastian sederhana—selaras praktik terbaik ISO/IEC 17025. Hubungi kami untuk pelatihan teknis berkualitas.
